Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, SMPIT - SMAIT Irfani Quranicpreneur Bilingual School

Business; No Pain No Gain

Business; No Pain No Gain

Penulis : Heri Siswanto, S.M. (Direktur Sekolah Wirausaha IQBS)


        Perkembangan zaman membawa kita pada kenyataan bahwa tuntutan ekspektasi pelanggan pada produk atau jasa yang kita tawarkan semakin tinggi. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai jenis usaha baru baik produk maupun jasa. Hal ini juga didorong dengan semakin banyaknya peminatan pelanggan terhadap suatu produk dengan harga yang rendah dan tuntutan kualitas yang tinggi. Ini menjadi acuan dimana para pebisnis harus memutar ide agar penciptaan bisnis dapat harmonis dan sejalan dengan keadaan. Jelas, kreatifitas dan inovasi bisnis sangat diperlukan agar produk yang dipasarkan dapat sesuai dengan minat dan kebutuhan pelanggan.
        Setelah mempelajari tentang Mindset Bisnis, Design Thinking dan Kanvas Bisnis Model (KBM) di kelas-kelas Sekolah Wirausaha IQBS sebelumnya, tentu wawasan kita akan bisnis semakin bertambah dan semangat untuk memulai bisnis seharusnya semakin tinggi. Hal ini tidak lepas dari manfaat yang diharapkan bahwa bagi pelaku bisnis, pembelajaran bisnis dapat menjadi evaluasi berjalan sehingga bagaimana bisnis dapat semakin produktif dalam menciptakan ide dan jaringan, sedangkan bagi para starter pebisnis, pembelajaran bisnis dapat menjadi pompa semangat yang dapat mendorong untuk segera memulai bisnis. Pertanyaannya, bagaimana agar bisnis yang sedang dijalankan dan atau yang akan dijalankan dapat benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen masa kini?.
        Alexander Ostewalder pada 2004 memperkenalkan hasil risetnya dalam pemodelan bisnis berupa Value Proposition Canvas (VPC). Metode ini kemudian banyak diadopsi perusahaan untuk memahami kekuatan dan kelemahan suatu produk di mata konsumen. Metode ini dilakukan dengan melalui diagram sederhana dimana terdapat 6 bidang kosong yang harus diisi sesuai aktifitas bisnis dan inovasinya. Tugas pebisnis adalah mengisi sedetail mungkin sehingga didapat gambaran tentang kekurangan suatu produk yang ditawarkan. Kerangka yang telah dibentuk akan memastikan bahwa ada kecocokan antara market dan produk. Outputnya, produk atau jasa akan diposisikan sedemikian rupa hingga memiliki nilai tawar yang dibutuhkan konsumen.
        Istilah no pain no gain yang mengandung makna bersakit-sakit dahulu lalu bersenang-senang kemudian, dalam hal ini menjadi kiasan dan gambaran implementasi dari sebuah bisnis. Dalam hal Value Proposition Canvas, terdapat Customer Pain dan Customer Gain yang menjadi media dan kotak yang harus diobservasi karena merupakan bagian yang dianggap penting untuk mengetahui kesesuaian manfaat yang diharapkan pelanggan dan tingkat resiko atau sisi negatif yang didapatkan pelanggan itu sendiri terkait produk yang kita tawarkan. Hal ini menjadi penting untuk diketahui, sehingga bilamana bisnis sekarang berada di fase sakit, Value Proposition Canvas (VPC) dapat menjadi solusi demi kesuksesan bisnis kemudian.
        Value Proposition Canvas akan tetap dapat berfungsi dengan baik meski diimplementasikan pada bisnis yang lama ataupun baru, hal ini karena dalam diagram ini terdapat dua bagian besar yang menjadi alat dimana apabila diisi akan sangat bermanfaat. Satu bagian berbentuk lingkaran untuk kebutuhan konsumen dan satu bagian lainnya berbentuk kotak berisi nilai tawar yang dimiliki perusahaan. Selanjutnya, Bagaimana 2 Bagian ini dapat dikembangkan?
        Lalu bagaimana cara menyusun 6 bidang diagram pada VPC agar dapat mengetahui posisi produk dan bisnis kita di mata konsumen? mari temukan jawabannya di *Kelas Ke-4 Sekolah Wirausaha IQBS!*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar