Akhlaq Salaf Solih dalam Mendidik Anak

Penulis : Irfan Soleh

 

Libur panjang Zidni Rasikh Irfani telah usai, seperti biasa ketika akan kembali masuk pesantren selalu tampak berat. Sejak kecil ia belajar bagaimana keluar dari zona nyaman, meskipun jujur saya sebagai orang tuanya pun berat sekali melepas anak kelas dua SD masuk pondok pesantren, tetapi kita tentu ingin punya anak yang berilmu dan bertaqwa jadi baik anak maupun orang tua nya harus sama-sama berjuang dan bersabar. Bagaimana gambaran akhlaq Ulama Salaf Sholih dalam mendidik anak?

 

Akhlaq para sahabat menurut Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya'roni  dalam kitab Tanbihul Mughtarin adalah betul-betul pasrah kepada Allah SWT dalam urusan dirinya, anak-anaknya dan para pengikutnya, tidak ada sandaran dalam membimbing dan mendidik mereka kecuali pasrah kepada Allah SWT. Sayyid Ali Al Khowwas berkata; Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi anak-anak ulama dan anak-anak orang sholeh, daripada berdo'a untuk kebaikan mereka, dari kejauhan serta penyerahan segala urusan kepada Allah SWT

 

Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya'roni mewanti-wanti pada para kyai jangan sampai putra para kyai tumbuh dalam kemanjaan dan merasa cukup dengan penghormatan orang-orang pada ayahnya atau keluarganya karena hal tersebut bisa membuat mereka tidak termotivasi untuk mencari dan mengembangkan kompetensinya. berbeda dengan anak-anak yang lahir dari keluarga awam (mengutip istilah Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya'roni ), keluarga yang katakanlah penuh dengan kesulitan dan tantangan, anak-anaknya menjadi berfikir bagaimana agar terlepas dari keadaan itu

 

Syekh Ahmad al Zahid rahimahullah sering mengasingkan anaknya, pada setiap kali pengasingan lamanya 40 hari, namun tetap saja dia tidak terbuka (hatinya kepada Allah), lalu ia berkata: " wahai anakku, andaikata urusan itu ada pada tanganku, maka aku tidak akan memprioritaskan siapapun atasmu dalam memperkenalkan thariqat". Kita tentu harus berupaya agar anak kita bisa menjadi anak yang bertaqwa, imamul muttaqin bahkan ulamaul 'amilin namun pada akhirnya tetap itu ada pada ketentuan Allah SWT

 

Tanggung jawab kita sebagai orang tua mendidik anak sejak kecil dengan budi pekerti yang luhur dan akhlaq mulia, mendidik mereka agar mempunyai kesadaran iman yang mendalam agar kelak putra putri kita mampu bergaul dengan akhlaq yang terpuji. memasukan anak ke pondok pesantren adalah bukti bahwa kita berupaya melaksanakan tanggung jawab tersebut meskipun harus melawan rasa rindu yang kadang tidak terbendung. Semoga kita semua diberi kekuatan, kesabaran dan semoga Allah menjadikan putra putri kita bagian dari muttaqin, imamul muttaqin dan ulamaul amilin...Amin...

 

Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 21 Januari 2023

Segat Tasdeq, Ukhuwwah dan Organisasi


 

Segat Tasdeq, Ukhuwwah dan Organisasi

Penulis : Irfan Soleh


Guru mulia Al Mukarrom Uwa Ajengan KH Khoer Affandi Manonjaya Tasikmalaya didalam karya nya Nadzom Sunda Syahadataen membagi syahadat kedalam syahadat syar'an dan syahadat munjin. Syahadat Syar'an adalah mengucapkan dua kalimah syahadat sedangkan syahadat munjin adalah syahadatain yang disertai dengan ma'rifat dan tasdeq yang mencakup idz Dzi'an & Qobul. Bagaimana kaitan Syahadat Munjin dengan prilaku kita dalam berorganisasi? Bagaimana cara kita mengaplikasikan Segat Tasdeq dalam berorganisasi?

Beriman kepada Allah SWT diikrarkan dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Para Ulama sepakat bahwa mengucapkan syahadatain termasuk rukun islam. Menurut KH Khoer Affandi di dalam kitab Aqidah Islamiyah, Hubungan mengucapkan Syahadatain dengan keimanan para Ulama berpendapat diantaranya Pertama, Imam al Asy'ari dan al Maturidi berpendapat bahwa mengucapkan dua kalimah syahadat merupakan syarat sahnya iman. Menurut Para Ulama yang dimaksud syarat sahnya iman disini adalah untuk pengesahan hukum islam di dunia. KH Khoer Affandi mengistilahkannya sebagai Syahadat Syar'an.

Pendapat kedua dari Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa mengucapkan syahadatain adalah setengah dari iman, karena iman dan syahadataen merupakan rangkaian dhohir dan bathin sehingga untuk menjadi orang yang beriman tidak cukup hanya dengan mengucapkan syahadatain tetapi harus dijiwai dengan benar. Syahadatain yang dijiwai dengan benar disebut Syahadat Munjin dimana didalamnya terdapat ma'rifat dan tasdeq. Ma'rifat yaitu idrok yang jazim yang tidak ada keraguan didalamnya, sesuai dengan bukti dan lahir dari dalil. Sementara Tasdeq adalah pengakuan dan penerimaan.

Segat Tasdeq adalah ikrar yang harus diucapkan sebagai konsekwensi dari syahadat munjin yaitu aku ridho (mengakui dan menerima) kepada Allah aku ber-Tuhan, dan Islam sebagai Agamaku, dan Kepada Nabi Muhammad SAW aku ber-Nabi dan ber-Rosul, kepada al-Qur'an aku berpedoman dan kepada orang-orang mukmin aku bersaudara (Rodhitu billahi Rabba, wabil islami dina, wabimuhammadin nabiyya wa rosula, wabil qur'ani imama, wabil mu'minina ikhwana. Kita garis bawahi wabil muminina ikhwana (kepada orang-orang mukmin aku bersaudara).

Ikrar wabil muminina ikhwana seharusnya menjadi landasan kita dalam berorganisasi karena banyak saat ini yang hanya karena berbeda organisasi padahal sesama mu'min kemudian lantas menganggap diluar organisasinya bukan ikhwan, bukan saudara. labelling "minhum" antar organisasi islam menurut saya mencederai segat tasdeq yang kita ikrarkan. Ketika saya aktif di berbagai organisasi malah banyak dicurigai padahal saya hanya berupaya mengamalkan segat tasdeq yang saya ikrarkan yaitu salah satunya wabilmu'minina ikhwana. 

Kalau pengamalan ukhuwah imaniyah saja masih sulit apalagi ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariah. Kita bersaudara karena sebangsa dan karena kita sama-sama manusia, sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT. Seandainya Segat Tasdeg betul-betul diamalkan dalam prilaku berorganisasi tentu kerukunan dan harmoni akan tercipta. Saya sangat mengapresiasi organisasi yang berupaya mengamalkan segat tasdeq ini dengan cara mengharmonikan berbagai afiliasi atau corak organisasi. semoga kita semua bisa semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan dan terus berupaya membangun persaudaraan atau ukhuwah antar sesama kita, semoga...Aamiin...


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 17 Januari 2023


 Metodologi Pengajaran Tafsir Jalalain Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya

Irfan Soleh


Tafsir Jalalain merupakan salah satu tafsir yang banyak dikaji di berbagai Pesantren di Indonesia. Di Miftahul Huda, Tafsir Jalalain dikaji setiap hari oleh semua santri juga menjadi salah satu kitab yang dikaji mingguan oleh para alumni. Hari ini saya berkesempatan mengikuti khataman Tafsir Jalalain hanca kemisan setelah puluhan tahun dikaji bahkan menurut informasi dari KH Nurkholis dari awal berdiri Miftahul Huda Manonjaya dan baru khatam hari ini kamis 12 Januari 2023. Kenapa Tafsir Jalalain banyak dikaji di Indonesia? Bagaimana metodologi pengajaran Tafsir Jalalain di Miftahul Huda Manonjaya?


Pengarang Tafsir Jalalain adalah Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi. Al-Mahalli yang hidup sekitar 791/1389-864/1459 adalah guru al-Suyuthi (849/1445-911/1505. Al Mahalli menulis mulai dari surah al-Kahfi sampai al-Naas kemudian dilanjutkan muridnya yaitu As Suyuti dari Al Baqarah sampai al Kahfi. Tafsir Jalalain banyak diminati masyarakat Indonesia karena ringkas, mudah difahami, menghindari perbedaan pendapat dengan mencantumkan pendapat yang kuat, dan yang paling penting adanya kesamaan ideologi ahlusunnah wal jama'ah


Selepas Khataman Tafsir Jalalain Hanca Kemisan di Miftahul Huda, kami dijamu sarapan dan kebetulan saya berbincang dengan KH Ece Zaenudin. Beliau memaparkan bahwa Metodologi Pengajaran Tafsir Jalalain yang dipakai di Miftahul Huda yaitu Pertama, Pengajar menterjemahkan ke dalam bahasa sunda ayatnya kata per kata. Kedua, Murid atau santri membaca terjemah sunda ayat tersebut dan Pengajar atau guru menterjemahkan kedalam bahasa sunda tafsir jalalainnya. Ketiga diterjemahkan masih dalam bahasa sunda secara umum dan keempat baru dijelaskan dimana penjelasannya ada yang memakai bahasa sunda ada juga yang campur dengan bahasa Indonesia


Kalau dihitung dari mulai berdirinya Miftahul Huda tahun 1967, berarti pengajian Tafsir Jalalain Hanca Kemisan ini sudah berjalan 56 tahun. Berarti Pengajian ini sudah dimulai sejak Periode KH Khoer Affandi, dilanjutkan KH Khoer dan saat ini oleh KH Ijang. Menurut KH Dodo Perbedaan pendekatan ketiga pengampu Tafsir Jalalain Hanca Kemisan tersebut adalah di zaman Uwa ajengan KH Khoer Affandi selain pendekatan riwayat diroyat juga ada pendekatan isyarat, Dimasa KH Khoeruman Azam Lebih dirayat juga riwayat dan dimasa KH Ijang Aristatolisi cenderung dominannya pendekatan dirayat


Terakhir sumber sekunder yang sering dipakai oleh pengampu Tafsir Jalalain Hanca Kemisan yaitu Al-Futuhat al-Ilahiyah bi Taudhihil Jalalain lil Daqaiq al-Khafiyah” (الفتوحات الالهية بتوضيح الجلالين للدقائق الخفية) karya  Abu Dawud Sulaiman bin Umar bin Manshur al-Ajiily al Azhary al-Jamal (w 1204 H). Dalam kitabnya beliau membahas kajian i’rab, sharaf, qiraat, pendapat-pendapat mufassir dengan disertai dalil dari hadis, pendapat sahabat, pendapat tabiin. Tafsir-tafsir lainnya yang juga dijadikan Sumber sekunder adalah Tafsir Ibnu Katsir dan tafsir-tafsir lainnya. Sebenarnya masih banyak yang bisa kita elaborasi misalnya contoh-contoh penafsiran KH Khoer Affandi apalagi tafsir isyari nya. Mudah-mudahan bisa kita tuliskan pada kesempatan lain...


Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Kamis 12 Januari 2023



Bedah Film dan Festival Kaulinan 

Penulis : Irfan Soleh


Liburan santri Pesantren Raudhatul Irfan telah usai, Semuanya sudah kembali mengaji namun belajar di sekolah belum mulai. Lagi-lagi kreatifitas dan inovasi kami sebagai pendidik kembali diuji yaitu dengan bagaimana caranya menyiapkan beragam kegiatan yang menghibur juga mendidik karena memulai belajar setelah libur panjang itu tidak mudah perlu pemanasan terlebih dahulu. Dua kegiatan yang kami siapkan yaitu bedah film pendek bersama aktor nasional dan yang kedua festival kaulinan barudak. keduanya dibingkai dalam acara Irfani Student Capacity Building. bagaimana keseruan dua kegiatan tersebut? apa manfaat yang di dapatkan para santri?


Diary Danar adalah film karya para santri Raudhatul Irfan, film pendek perdana yang menceritakan perjuangan awal masuk pesantren. Alhamdulillah banyak respon positive dari para penonton dari mulai yang termotivasi untuk masuk pesantren hingga yang merasa terharu dan menangis bahagia karena pernah merasakan apa yang dialami danar. Film Diary Danar kemudian kami bedah pada Irfani Student Capacity Building bersama sahabat saya Aditya Lakon, santri yang berprofesi sebagai aktor. Kang Adit pernah melakukan kolaborasi international ke Jepang hingga main di beberapa film seperti Sang Kyai, Baby Blues (2021) dan Tumbal Kanjeng Ratu Iblis (2022)


Kang Adit membedah Film pendek Diary Danar dari sisi teknis seperti angle kamera, karakter aktor, logika, hingga tugas dari Produser dan Sutradara. Sutradara adalah orang yang memberi arahan dan bertanggung jawab atas masalah artistik serta teknis dalam pementasan drama, pembuatan film dan sebagainya sedangkan produser bertugas menyediakan dana untuk proses pembuatan film, mempekerjakan sutradara, tim kreatif, penulis naskah dan tim pendukung lainnya. Masukan kang Adit untuk film diary danar cukup banyak pada tataran teknis namun overall bagi pemula dianggap karya luar biasa


Kegiatan kedua adalah Festival Kaulinan Barudak. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Tim Sakola Motekar. dimulai dengan Permainan sorangan-sorangan; tangtang kolentang dan sur ser sur ser dipadu dengan senam otak. Ditambah tarian menanam padi. Dilanjut dengan Permainan duaan-duaan; salam sabrang. Permainan tiluan-tiluan; perepet jengkol. Permainan opatan-opatan; endog-endogan. Permainan limaan - limaan; cing ciripit. kemudian diakhiri dengan Ragam permainan sarung; sasarungan, nininjaan, totopian, momonyetan, oorokan, paparahuan. 


Meskipun kondisi hujan namun para santri sangat bersemangat dan termotivasi mengikuti beragam permainan tradisional tersebut karena ternyata sarat makna dan filosofi. Permainan (kaulinan) traditional mengajarkan kebersamaan, kejujuran, kekompakan, leadership, dan karena banyak gerak jadinya membuat anak-anak sehat. Permainan paciwit-ciwit lutung mengajarkan untuk berempati, merasakan penderitaan orang lain, mengajarkan untuk berprilaku baik pada orang lain, dan mengajarkan bahwa apapun yang kita perbuat akan kembali pada diri kita sendiri. Banyak pelajaran, hikmah dan filosofi dari permainan tradisional, dan itulah kenapa kami mendekatkan kembali kaulinan barudak kepada para santri. 


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 8 Januari 2023

Sedikit Cerita di Yogyakarta

 


Sedikit Cerita di Yogyakarta

Penulis : Adistira Pramudia Sabila

 

Saat itu Hari Rabu, 21 Desember 2022, Saya dan teman-teman di Pondok Pesantren Raudhatul Irfan melaksanakan Study Tour ke Yogyakarta. Kegiatan Study Tour kami laksanakan selama 3 Hari 2 Malam. Saat perjalanan pemberangkatan, tidak mudah untuk melewati semua pengalaman selama perjalanan untuk sampai ke Yogyakarta, di perjalanan banyak sekali yang pusing dan mabok kendaraan, untung saja ada panitia yang sedia selalu merawatnya, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua panitia yang sudah mengeluarkan waktu dan tenaganya hanya untuk kami aman, nyaman dan selamat selama perjalanan dan kegiatan Study Tour di Yogyakarta.

Perjalanan kala itu dilakukan di malam hari dan sampai di waktu subuh, alhasil kami subuhan, sarapan dan melanjutkan perjalanan ke destinasi pertama. Sesampainya disana kami memulai kegiatan dengan menaiki jeep di lava tour, nah di 1 destinasi wisata tersebut kami mengetahui banyak hal tentang gunung yang meletus dan melihat barang barang yang meleleh gara gara letusan tersebut, kami melihat banyak tulisan tulisan Jawa di rumah tersebut tapi sangat disayangkan Saya tidak mengerti. Nah tidak lama kami laju kembali menaiki jeep dan berhentilah di batu planet disana Saya dan teman-teman di beri tahu bahwa disitu ada batu yang menyerupai alien tapi siapa sangka setelah ku lihat dengan jelas ternyata benar batu tersebut seperti ada mata, hidung, telinga dll, layaknya alien di film-film.

Selesai sudah destinasi pertama, kami melanjutkan perjalanan untuk makan siang dan sholat. Setelah itu kami melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu ke Dirgantara. Disana adalah museum peninggalan para pahlawan, banyak senjata-senjata pahlawan dahulu untuk melawan para penjajah, Saya sempat berpikir mengapa pahlawan bisa memegang dan mengoperasikan senjata-senjata tersebut, sedangkan dahulu Indonesia hanya kaya akan sumber daya manusianya tidak dengan teknologinya, tetapi setelah Saya ke Museum Dirgantara Saya mengetahui akan hal itu, disana ada helm yang tertembus oleh peluru, kami sangat terharu melihatnya, apalagi jika melihat kenyataan bahwa masih ada pemuda Indonesia di masa sekarang yang masih tidak peduli akan Bangsanya sendiri.

Kami melanjutkan perjalanan ke Jokem disana pusatnya bakpia Yogyakarta, Kami membeli sedikit oleh-oleh untuk keluarga di rumah dan disana bisa mencoba bakpia yang sudah siap dimakan dan rasanya not bad, verry well. Setelah itu kami ke Hotel Horizon untuk beristirahat untuk melanjutkan kegiatan esok harinya. Tidak lupa kami mengisi kegiatan malam hari di Yogyakarta dengan menghirup dan merasakan hangatnya suasana jalanan malam, hawa yang sejuk di tengah ramainya hiruk pikuk perkotaan klasik, di Yogya di mana selalu ada alasan untuk orang-orang kembali ke sana.

Selepas menganyam bulu mata, Kami bangun jam 5 pagi untuk sholat shubuh setelah itu kami berenang dan menunggu sarapan dari hotel tersebut, setelah itu kami lanjut ke destinasi selanjutnya yaitu ke Monjali, Monjali adalah Monumen Jogja Kembali, disana kami diceritakan peperangan pahlawan dahulu. Disana banyak sekali sketsa tentang pahlawan contohnya seperti Pa Soeharto meminta izin kepada pa Soekarno untuk memimpin perang, ternyata perjuangan pahlawan tidak semudah yang Saya pikirkan saat Saya kecil, semenjak Saya ke sana Saya mengetahui banyak hal tentang pahlawan, ya rasanya benar-benar ingin kembali lagi kesana.

Singkat cerita, kami langsung ke Taman Pintar. Disana bukan hanya pahlawan saja yang dipajang dalam Museum tersebut, tetapi ada penemu penemu dahulu seperti penemu listrik dll. Kami disana mencoba banyak hal yang berkaitan dengan listrik, kami mencoba gempa bagaimana dll, kami mengelilingi Museum tersebut ada banyak sekali alat alat tradisional yang bisa kita coba seperti goong dll. Kesimpulan dari artikel yang Saya buat ini adalah kita mendapatkan ilmu tidak hanya di dalam kelas tetapi bisa juga ditempat wisata jadi kita bisa merasakan serunya dan juga bisa mendapatkan ilmunya, guru Saya pernah bilang belajar lah dimanapun kamu berada Saya baru mengerti makna yang guru saya ucapkan. Terima kasih kepada semuanya yang berkaitan dengan Study Tour ini karena ini kita bisa mendapatkan wawasan yang lebih luas.

 

Waalllahu a'lam bishawab..

Suluk Sunyi Sang Kyai


Suluk Sunyi Sang Kyai

Penulis : Irfan Soleh


Pada malam keakraban satu abad Sukahideng, KH Ii Abdul Basit Wahab menyampaikan beberapa hal diantaranya mengenai Ekpresi kegembiraan yang dikorelasikan dengan QS Yunus ayat 58, Malam keakraban harus diikuti dengan hati yang bersih jangan sampai dengan hati yang kotor dan pesan yang di wasiatkan turun temurun dari pendiri Sukahideng yaitu " Urang teh henteu gede, ulah ngarasa gede, jeung ulah nga gede-gede karep" artinya Kita tidak besar, jangan merasa besar, dan jangan dibesar-besarkan. Tulisan ini berupaya memahami pesan-pesan diatas terutama pesan ketiga dari perspektif Kitab Tanbihul Mughtarin  

Salah satu gambaran akhlaq Salaf Sholih menurut Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya'rani dalam Kitab Tanbihul Mughtarin adalah Akhlaq mereka sangat ikhlas dalam beramal dan sangat takut ilmu dan amalnya ternodai Riya. Sufyan al-Tsauri Rohimahullohu Ta'ala berkata; " Jarang sekali orang berilmu yang halaqoh belajarnya besar kecuali ia ditembus oleh kesombongan diri nya (maksudnya jarang orang alim yang selamat dari riya, jika halaqah kajiannya telah besar). Al-Hasan Bashriy pernah lewat kepada Thowus Rohimahullah Ta'ala yang sedang mendiktekan hadits di Mesjid al-Haram pada halaqah yang besar, lalu al-Hasan Bashriy mendekatinya, dan berbisik pada telinga nya: " Jika hatimu membuatmu bangga (karena halaqah yang besar ini), maka hengkanglah dari majlis ini! lalu Thawus berdiri seketika itu juga"

Ibrahim bin Adham pernah melewati halaqah Bisyriy al-Hafiy Rohimahullohu Ta'ala, lalu ia merasa riskan atas Bisyriy Al Hafiy karena besar halaqahnya, lalu ia berkata: "seandainya halaqah ini dialami oleh seseorang dari kalangan sahabat, maka sahabatpun tidak akan merasa aman atas dirinya dari rasa ujub". Sufyan Al-Tsauriy rahimahullohu Ta'ala tidak pernah membiarkan seorang pun belajar kepadanya kecuali sekitar 3 orang, lalu ia lengah pada suatu hari, sehingga ia melihat halaqahnya telah menjadi besar, maka ia berdiri dengan terkejut, dan berkata: " kami dijebak demi Allah, dan kami tidak menyadari". Demi Allah jika Amirul Mukminin Umar r.a. menemukan orang sepertiku, sambil duduk di majlis ini, maka sungguh ia (Umar) akan menyuruh orang seperti aku itu berdiri dan berkata padanya: " orang sepertimu tidak pantas untuk mendapatkan semua itu" (maksudnya duduk dan berbicara dalam halaqah yang besar)

Pesan Para Kyai Sukahideng bahwa kita tidak besar, jangan merasa besar dan jangan di besar-besarkan merupakan bentuk pengajaran yang langsung di praktekan tentang kehati-hatian, ke khawatiran ketika santri semakin banyak, alumni semakin banyak khawatir terjangkit penyakit ujub riya dan takabbur. Sungguh ungkapan " urang teu gede, ulah ngarasa gede, jeung ulah di gede-gede keun" betul-betul mengajarkan kami para alumni sukahideng agar betul-betul memahami dan mengamalkan keikhlasan. Bahkan ketika kami bersilaturahmi ke salah satu dewan guru, beliau mengatakan bahwa acara satu abad sukahideng tidak mengundang pejabat. lagi-lagi hal ini mengajarkan akan keikhlasan karena al-Fudail bin Iyadh Rahimahullohu Ta'ala berkata: " jika kalian melihat orang berilmu atau ahli ibadah yang gembira disebut-sebut kesholehannya di hadapan para penguasa dan anak dunia, maka ketahuilah bahwa orang itu adalah orang yang riya (suka sensasi)

Maka tidak heran pesan KH Ii Abdul Basith Wahab kepada para alumni sukahideng agar betul-betul menjaga hati. mengikuti acara satu abad sukahideng harus diikuti dengan hati yang bersih jangan sampai dengan hati yang kotor karena hati yang bersih, hati yang sehat, hati yang damai akan menimbulkan sikap yang baik. Hati yang bersih yaitu hati yang tidak terjangkiti kotoran penyakit hati. Kalaupun kita mau mengekspresikan kebahagiaan itu semata-mata karena Anugrah dan Rahmat Allah SWT. Al-Fudail bin Iyadh Rahimahullohu Ta'ala pernah berkata: " Beramal karena manusia itu adalah riya, sedangkan tidak beramal karena manusia itu adalah syirik, ikhlas itu adalah Allah memurnikan dari keduanya". Semoga kita semua mengikuti Suluk yang di amalkan oleh Guru-guru kita, suluk yang di contohkan para Ulama Salaf Sholih, yaitu ikhlas dalam beramal semata-mata karena Allah SWT, semoga...Amin...


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 2 Januari 2023

Analisis Kurikulum Pesantren Sukahideng


 Analisis Kurikulum Pesantren Sukahideng

Penulis : Irfan Soleh


Pesantren Sukahideng sudah berusia satu abad. Seratus tahun mendidik dan melahirkan banyak alumni yang berkiprah di berbagai bidang. Sehingga penting untuk kita kaji kurikulum yang digunakan Pesantren Sukahideng karena kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Daftar kitab yang dikaji di Sukahideng ditentukan berdasarkan marhalah atau tingkatannya. Terdapat enam marhalah atau tingkatan yaitu Tamhidiyah, Ibtidaiyah satu, ibtidaiyah dua, ibtidaiyah tiga, mutawasithah dan mutaqodimah. Kitab-kitab apa saja yang dikaji di masing-masing marhalah? Fan ilmu apa saja yang ada di setiap marhalah? Menurut penulis ada 3 fan ilmu yang porsinya cukup besar menandakan prioritas kurikulum pesantren, fan ilmu apa sajakah?

Kurikulum yang kita analisis adalah kurikulum terbaru yang digunakan tahun 2022 karena mungkin saja ketika masa awal pesantren berdiri atau di setiap periode kepemimpinan ada sedikit perbedaan kurikulum. Sistem Pengajaran pada awal mula didirikan pesantren Sukahideng belum mengenal sistem klasikal dan mengalami banyak perubahan pada era KH. Wahab Muhsin karena sudah mulai ada pengkelasan meskipun belum seperti yang diterapkan sekarang. Kitab yang dikaji pada marhalah tamhidiyah adalah 1) Buku Iqra 1-6/al Qur'an/ Hafalan Juz Amma, 2) 105 hadits, 3) Ageman katauhidan KH A Wahab Muhsin, 4) Tuntunan Shalat Lengkap, 5) Nadzoman Syu'abul Iman KH. A. Wahab Muhsin, 6) Bahasa Arab satu A, dan 7) Al Amtsilah Tasrifiyah. 

Kitab yang dikaji pada Marhalah Ibtidaiyah satu adalah 1) al Qur'an (hafalan juz amma), 2) Hadits untuk Ibtidaiyah satu, 3) Durusul Aqoid Diniyah juz satu dan dua, 4) Safinatunnaja, 5) Bahasa Arab satu A, 6) al Amtsilah Tasrifiyah dan 7) penjelasan al Jurumiyah. Kitab yang dikaji pada Ibtidaiyah dua adalah 1) al Qur'an (surat-surat pilihan), 2) Mulakhos Riyadussolihin juz dua , 3) Sulam At Taufiq, 4) Bahasa Arab satu A, 5) Al Amtsilah Tasrifiyah, Al Kaelani, 6) Qawaid al Lughah jilid satu. Kitab yang dikaji pada Ibtidaiyah tiga adalah 1) al Qur'an (surat-surat pilihan), 2)Mulakhos Riyadussolihin juz tiga, 3) Bidayatul Hidayah, 4) Bahasa Arab satu B, 5) Al Aqoid Diniyah tiga, 6) Qawaid Lughah juz dua. 

Kitab yang dikaji pada Marhalah Mutawasitoh adalah 1) Tafsir Jalalain, 2) Riyadussolihin, 3) At Tibyan fi ulumil Qur'an, 4) Taisir mustolah hadits, 5) Jauhar Tauhid, 6) Taqrib, Bulugul Murom, Fathul Mu'in, 7) Ta'limul Muta'allim, 8) Bahasa Arab satu B, al muthola'ah al arobiyah, 9) Alfiyah ibn Malik, 10) Al Bayan, 11) Al Jauhar Maknun, 12) Pokok-pokok ilmu Balagah. Kitab yang dikaji pada marhalah mutaqodimah adalah 1) Tafsir Jalalain, 2) Riyadussolihin, Shohih Bukhori, 3) Jauhar Tauhid, 4) Abdul Wahab Kholaf, Jam'ul Jawami, 5) Fathul Qorib, Bulugul Murom, Fathul Mu'in dan Kifayatul Akhyar, 6) Risalah Mu'awanah, Kifayatul Atqia, al Hikam, Ihya Ulumiddin, 7)Alfiyah Ibn Malik, 8) Jauhar Maknun, Balagoh Wadhihah, Uqudul Juman, 9) Sulamunawaroq. 

Sekarang mari kita analisis, di setiap marhalah selalu ada kajian kitab Al Qur'an, Hadits dan Bahasa Arab sesuai dengan tingkatannya. Pelajaran Al Qur'an dari mulai Iqra, Hafalan Juz Amma, Surat-surat pilihan hingga Tafsir Jalalain. Pelajaran Hadits dari mulai hadits-hadits pendek 105 hadits, Riyadussolihin, Bulugul Murom hingga Shahih Bukhori. Kalau kita kaitkan dengan pengajian kitab Tanbihul Mughtarrin yang biasa dikaji oleh para alumni sukahideng bersama Guru Mulia KH. Ii Abdul Basith Wahab dibab pertama bahwa gambaran akhlaq salafussolih itu dekat dengan al Qur'an dan Hadits dan Para Ulama Salaf Sholih selalu menjadikan al Qur'an, Hadits serta tradisi sebagai neraca dalam bertindak. Kurikulum di setiap marhalah terlihat jelas mengarah kesana.

Pada saat kami sowan ke KH Ii Abdul Basith Wahab dan saya bertanya mengenai kurikulum pesantren, beliau sangat menekankan pada Bahasa Arab terutama Nahwu Sharaf dan memang Pesantren Sukahideung terkenal sebagai ahli dalam bahasa dan sastra arab. Pelajaran Bahasa arab dari mulai Bahasa Arab 1 A, 1B hingga, hingga Qawaid Lugoh karya KH. Muhammad Syihabudin Muhsin yang berisi tentang ilmu Nahwu dan pengembangannya berupa tamrin atau latihan-latihan disertai banyak contoh-contoh yang memudahkan pemahaman. Guru Mulia KH. Wahab Muhsin mengarang Kitab Pokok-pokok ilmu balaghah begitu juga Prof. Dr. KH. Fuad Wahab juga merupakan Guru Besar sastra Arab. Penjelasan Alfiyah Ibn Malik karya KH. Ii Abdul Basith Wahab. Karya-karya Guru-Guru Mulia Pengasuh dan Pimpinan Pesantren Sukahideng diatas menegaskan akan kekhasan pesantren Sukahideng sebagai Gudangnya ahli Bahasa dan Sastra Arab

Melihat kurikulum dari Tamhidiah hingga Mutaqodimah, Pengajaran ilmu sharaf berupa amtsilah tasrifiyah ada di marhalah tamhidiah, ibtidaiyah 1 dan ibtidaiyah 2 bahkan di ibtidaiyah 2 sudah masuk pada kitab Kaelani, Jurumiyah ada di ibtidaiyah 1, Qowaidullugoh ada di ibtidaiyah 2 dan 3. Kitab Alfiyah Ibn Malik baru dikaji di marhalah mutawasitoh dan mutaqodimah. Pada Novel Biografi KH. A. Wahab Muhsin, Fauz Noor mengutip percakapan KH Aam Abdussalam dengan KH. A. Wahab Muhsin mengenai apakah cukup anak-anak santri menguasai nahwu sharaf jika mesantrennya hanya tiga tahun dan jawab beliau sangat kurang. Sehingga metode pembelajaran di Sukahideng di sesuaikan agar di satu sisi identitas pesantren Sukahideng sebagai Pesantren Fan Bahasa Arab terjaga namun disisi lain bagi yang hanya nyantri 3 tahun, tauhid juga fiqih dasarnya bisa terjaga. Kesimpulannya menurut penulis Kurikulum Pesantren Sukahideung menekankan pada pembelajaran Qur'an, Hadits dan Bahasa Arab namun bukan berarti fan ilmu lainnya tidak dikaji. terlihat di Marhalah Mutawasitoh dan Mutaqodimah beragam kitab kuning dari berbagai fan ilmu dikaji dan dipelajari oleh Para Santri Sukahideng


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 30 Desember 2022