Nanang Permana dan Masanobu Fukuoka


Nanang Permana dan Masanobu Fukuoka

Penulis : Irfan Soleh


Pagi ini, sabtu 1 juni 2024, selepas ngajar ngaji ba'da subuh, penulis membeli Sorabi untuk sarapan. ketika sedang menunggu antrian, datanglah kang Ramdhani, sosok intelektual muda yang kita sering dipertemukan di forum-forum diskusi dan kita sama-sama senang baca buku. Obrolan ringan kita entah kenapa menyerempet pada isu pertanian kabupaten Ciamis, isu yang menurut data pada paparan Ciamis Economic Forum 2024, pertanian masih merupakan mata pencaharian mayoritas masyarakat Ciamis. Entah kenapa Obrolan kami tentang pertanian mengerucut pada dua nama yaitu Nanang Permana dan Masanobu Fukuoka, adakah irisan diantara keduanya? Gagasan apa yang mereka berdua bawa untuk petani dan pertanian?

Kita mulai dengan sosok Nanang Permana, selain politisi beliau juga dikenal sebagai aktifis dan pemikir pertanian. Kang Nanang punya konsep SEGERA (Selamatkan Generasi), gagasan SEGERA sudah sejak tahun 2017 beliau suarakan. Misi nya adalah bagaimana menjadi manusia merdeka dan manusia mandiri. Termasuk dengan konsep pertaniannya, Penulis sempat menanyakan gagasan yang beliau usung di WA Grup ICMI Ciamis, beliau menjawab singkatnya adalah gagasan bertani mandiri, petani harus bisa punya kemandirian pangan, kedaulatan benih dan menurut kang Ramdhani, Kang Nanang ini senang dengan konsep bertani nya Masyarakat Baduy yang dalam diksi pertanian bisa dikategorikan sebagai pertanian alami.

Pertanian alami (Natural Farming) adalah adalah cara menanam pangan yang regeneratif secara lingkungan, yang tidak didasarkan pada teknik, tetapi pada hubungan yang adil antara petani dan alam. Masyarakat Baduy tidak mengenal irigasi, tidak menggunakan obat-obatan kimia, tidak boleh membajak tanah dengan hewan apalagi traktor karena akan merusak kesuburan tanah, pola bercocok tanamnya masih sangat tradisional dimana ada upacara membersihkan lahan sebelum ditanami yang disebut nyacar, membakar lahan supaya subur yang disebut ngaduruk dan upacara proses menanam padi yang disebut ngaseuk, semuanya masih serba tradisional dan alami. 

Gagasan pertanian kang Nanang Permana dan Masyarakat Baduy pada tataran filosofis ada irisan dengan Tokoh Filsuf dan praktisi Pertanian Alami yang bernama Masanobu Fukuoka. beliau sangat prihatin dengan kerusakan alam yang diakibatkan pertanian modern, makanya beliau bertekad bertani secara tradisonal dan alami. Pertanian Alami didasarkan pada pengembangan hubungan yang lebih erat antara petani, dan lahan. Para petani alami memiliki teknik dan metode yang beragam namun memiliki akar yang sama dalam menghubungkan kembali diri mereka dan proses pertanian mereka dengan Bumi, dalam belajar dari alam secara langsung, dan dalam mengolah pangan yang memulihkan kesehatan alam dan umat manusia.

Penulis mengutip tulisan dari sebuah situs yaitu Finalstraw.org yang menuliskan bahwa tidak ada “teknik pertanian alami” yang dapat diterapkan pada setiap orang atau tempat. Namun, ada beberapa “prinsip” yang sering diajarkan oleh alam kepada kita saat kita menjalani kehidupan dan bertani di dalamnya yaitu Tidak perlu mengolah ladang, Serangga dan gulma bukanlah musuh, Tidak diperlukan masukan eksternal apa pun ke dalam pertanian, dan Biarkan alam memutuskan apa yang tumbuh. Penulis berniat meneliti konsep Pertanian alami lebih jauh termasuk meneliti tidak hanya ide dan gagasan Pertanian Alaminya kang Nanang Permana namun juga ingin melihat sejauh mana implementasi di lapangan khususnya aplikasi pada para petani di Kabupaten Ciamis.


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 1 Juni 2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar